Showing posts with label Allah. Show all posts
Showing posts with label Allah. Show all posts

Sunday, June 6, 2010

Renungan... Mencintai Allah, Rasul-NYA, dan Makhluk-NYA

Bismillah, Dengan menyebut nama Allah


Apa hal yang membahagiakan?
bersama orang yang kita cintai dan mencintai kita...

Cinta, kasih sayang...
perasaan yang membahagiakan kita...
fitrah (naluri) yang ada pada seluruh makhluk
salah satu karunia dari Allah subhanahu wa ta'ala untuk hamba-hambaNYA...

Siapa yang kita cintai?
siapa yang mencintai kita?
orang tua kita, keluarga kita, sahabat-sahabat kita, pasangan kita?
mungkin sebagian besar dari kita akan menyebutkan orang-orang terdekat kita...

Mungkin kita dengan mudah menyebutkan mereka sebagai orang yang kita cintai, dan kita merasakan mereka mencintai kita...
karena mereka hidup bersama kita, di sekitar kita, kita melihatnya, mendengar suaranya, berinteraksi bersama mereka...
kita mengenal mereka, mengenal sifat-sifatnya, memahami mereka...
dan kita merasa nyaman bersama mereka...

Rasulullah bersabda :
"3 hal jika seseorang memiliki ketiganya, ia akan merasakan manisnya iman,
pertama, mencintai Allah dan Rasul-NYA, lebih dari cintanya kepada yang lain,
kedua, mencintai seseorang hanya karena Allah,
ketiga, enggan untuk kembali kepada kekafiran, setelah Allah menyelamatkannya dari kekafiran, sebagaimana enggannya dia untuk dilemparkan ke dalam api neraka."
( HR. Bukhari & Muslim )

Bagaimana dengan cinta kita kepada Allah dan Rasul-NYA?
apakah kita mencintai Allah sebagai cinta teratas dari segala rasa cinta kita?
apakah kita mencintai Rasulullah sebagai cinta teratas kita atas semua makhluk Allah?
mungkin kita "merasa" mencintai Allah & Rasulullah, tapi apakah kita sudah "memaknai" dan "mewujudkan" kecintaan tersebut...

Allah Ta'ala berfirman :
"Katakanlah (Muhammad) : jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku (Muhammad), niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.
( QS. Ali-Imran (3) : 31 )

Apa tanda kecintaan?
saat kita mencintai sesuatu...
kita senantiasa mengingatnya,
kita senang bersamanya, merasa nyaman bersamanya,
kita merindukannya...
kita mencintai apa yang dicintainya,

Bagaimana kecintaan kita kepada Allah?
mengapa tak mudah untuk mengingat Allah dalam setiap waktu kita? mengapa kita baru mengingatnya saat membutuhkannya...
mengapa tak mudah merasa nikmatnya ibadah-ibadah kita? padahal saat itulah saat terbaik mendekati-NYA...
mengapa belum pernah merasakan kerinduan kepada Allah, merindukan memahami firman-firmanNYA, rindu untuk beribadah mendekati-NYA...
mengapa terkadang kita tak menyukai apa yang dicintai & diridhai-NYA...

Bagaimana kecintaan kita kepada Rasulullah?
mengapa kita jarang mengikuti sunnah beliau...
mengapa terasa berat mengamalkan sunah-sunnah beliau dan hidup bersama sunnahnya...
mengapa jarang merasa merindukan untuk mengikuti jalan beliau...
mengapa terkadang kita merasa kurang menyukai sunnah beliau...

Apakah kita belum memiliki kecintaan kepada Allah & Rasulullah?
Kita sadari atau tidak, kecil atau besar, di lubuk hati kita memiliki rasa cinta kepada Allah, Rasulullah, dan Islam...
Kita mengagungkan Allah, Rasulullah, dan Islam, kita tak rela saat ada yang melecehkannya...
Tapi mungkin baru sebatas dalam lubuk hati, belum mewujudkannya dalam kehidupan kita...
Mungkin kita belum merasakan kecintaan tersebut dengan kesadaran, merasakan senantiasa mengingat Allah, merasakan kerinduan pada-NYA...

Menumbuhkan kecintaan kepada Allah dan Rasulullah...
kita mencintai sesuatu, maka kita akan senantiasa mengingatnya...
kita berusaha mengenalnya, memahaminya...
dengan mengenalnya, mengenal sifat-sifatnya, kita akan memahaminya...
semakin tumbuh dan bersemilah rasa cinta, dan berkembang seiring kebersamaan dan kedekatan...

Mencintai Allah....
Memiliki kecintaan kepada Allah dan Rasulullah, melalui suatu proses...
dengan belajar mencintai & berusaha mencintai...

Maka mulailah mengenali Allah,
mengenal nama-nama & sifat-sifatNYA yang agung (Asma ul-Husna),
yang telah Allah kabarkan lewat firman-NYA (Al-Qur'an) dan telah Rasul-NYA sampaikan (Al-Hadits, karena apa yang Rasulullah ucapkan adalah wahyu dari Allah)
mendekati-NYA, dengan ibadah yang Allah perintahkan dan Rasulullah contohkan,
mendekati-NYA, dengan do'a-do'a yang kita panjatkan...
merindukan-NYA, merindukan dengan mengingat-NYA (lewat dzikir, dengan lafadz dzikir yang ada dalam Al-Qur'an dan Al-Hadits)
merindukan-NYA, merindukan untuk mendekati-NYA...
merasakan cinta-NYA dan kasih sayang-NYA, lewat ciptaan-ciptaan-NYA, menakjubkannya alam semesta...
merasakan cinta-NYA dan kasih sayang-NYA, lewat cinta-NYA yang DIA berikan lewat makhluk-makhluk-NYA...

Sungguh Allah sangat mencintai hamba-NYA yang mendekati-NYA, dalam hadits qudsi, Rasulullah bersabda, Allah berfirman :
Tidaklah hamba-KU mendekatkan diri kepada-KU dengan sesuatu yang lebih AKU sukai daripada apa yang telah AKU wajibkan atasnya. Hamba-KU terus menerus mendekatkan diri kepada-KU dengan amalam-amalan sunnah sehingga AKU mencintainya.
( HR. Bukhari )

Rasa cinta kepada Allah selaras dengan rasa cinta kepada Rasul-NYA,
Menumbuhkan rasa cinta tersebut dengan pendekatan diri dengan amalan yang telah Allah beritakan dan Rasul-NYA contohkan...

Semoga kita dapat mencintai Allah dan Rasul-NYA,
Rasulullah sering berdo'a :
wa as aluka hubbaka, (dan aku memohon rasa cinta kepada-MU )
wa hubba man-yuhibbuka, (dan cinta kepada orang-orang yang mencintai-MU )
wa hubba 'amali-yuqoribunniy ilaa hubbika (juga cinta kepada amal perbuatan yang akan mendekatkan diriku untuk mencintai-MU)
( HR. Ahmad, At-Tirmidzi )

Semoga kita dapat mencintai Allah & Rasul-NYA, dan mencintai makhluk-NYA karena-NYA. Sehingga kita dapat merasakan manisnya iman, dan merasakan nikmatnya beribadah kepada-NYA, dan mengantarkan kita ke surga-NYA, Amiin ya Rabb-al-alamin.



"Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah mudahkan baginya jalan menuju surga."
( HR. Muslim )

Sunday, May 16, 2010

Tauhid Kunci Menuju Surga

”Barang siapa yang akhir perkataannya sebelum meninggal dunia adalah ‘laa ilaha illallah’, maka dia akan masuk surga”
(HR. Abu Dawud, derajat hadits : shahih)

Apakah yang menjadi tujuan hidup manusia?
kebahagiaan...
Begitu juga kita, kita mengharapkan kebahagiaan, kebahagiaan yang bagaimana? sebagai seorang muslim yang mengimani adanya hari kiamat dan kehidupan di akhirat, kebahagiaan yang menjadi harapan kita kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

Kebahagiaan di akhirat adalah saat kita dimasukkan ke dalam surga, itulah kebahagiaan dan kemenangan terbesar. Bagaimana untuk menuju kebahagiaan tersebut? Islam telah mengajarkan bagaimana menggapai kebahagiaan di dunia dan akhirat, ajaran Islam meliputi seluruh aspek kehidupan. Islam mengajarkan akhlak & budi pekerti yang baik, mengajarkan berbuat kebaikan & meninggalkan kejahatan, mengajarkan sosial, berhubungan dengan Allah, manusia, dan seluruh makhluk hidup, semua hal itu bertujuan agar manusia hidup bahagia di dunia dan akhirat.

Maka untuk menggapai kebahagiaan ialah dengan menjalankan ajaran Islam dalam kehidupan kita. Untuk menjalankan keIslaman tentulah kita perlu mengetahui apa itu Islam, bagaimana Islam, dan apa saja yang diajarkan Islam kepada kita, dimulai dari hal yang pokok/mendasar.

Pokok atau landasan dasar dalam Islam adalah tentang akidah (keimanan). Akidah merupakan akar yang menjadi penumpu tegaknya pohon keimanan. Ibarat suatu bangunan, akidah merupakan pondasi untuk tegak & kokohnya berdirinya bangunan tersebut. Jadi sebelum kita mengamalkan ajaran Islam hendaknya terlebih dahulu menguatkan akidah, yaitu dengan mengetahui & memahami akidah yang benar & lurus, sehingga akan mengarahkan kita pada jalan yang lurus.


Akidah & Tauhid

Akidah merupakan keyakinan yang mengikat hati seseorang terhadap suatu agama. Karena berkaitan dengan keyakinan, maka akidah merupakan amalan hati. Akidah Islam ada dalam rukun iman yang enam (iman kepada Allah, kepada para malaikat, keapada para rasul, kepada hari berbangkit, dan beriman kepada qodho & qodar). Barang siapa tidak menerima salah satu saja dari keimanan tersebut, maka dia belum beriman.

Tauhid berasal dari kata "wahhada" yang artinya satu atau esa, sehingga tauhid berarti mengesakan, sehingga secara istilah tauhid berarti mengesakan Allah dalam mengimani ke-esa-an Allah sebagai pencipta & pengatur alam semesta, dan memurnikan ibadah hanya pada Allah.

"Laa ilaha illallah" kalimat Tauhid
Kalimat "Laa ilaha illallah", kalimat yang mungkin kita sudah hafal di luar kepala, ...
"Laa ilaha illallah", "Tiada Tuhan Selain Allah"...
Kita sudah mengetahuinya, tapi apakah kita sudah mengerti dan memahami makna kalimat tersebut?
apakah kita sudah mengamalkannya dalam kehidupan kita?

Pengamalan atau perwujudan kalimat "Laa ilaha illallah" yang mengantarkan kita ke surga...
"Laa ilaha illallah" merupakan kalimat syahadat (persaksian), hal pertama yang menandai seseorang menjadi Muslim...
Kita bersaksi "bahwa tidak ada Tuhan yang hak untuk disembah/diibadahi kecuali Allah"...
Inilah yang dinamakan Tauhid, yaitu mengesakan Allah, menjadikan Allah satu-satunya...

Mengapa kita perlu mengetahui tentang tauhid?
Untuk men-tauhid-kan Allah, tentunya kita harus mengetahui apa itu tauhid dan bagaimana perwujudan tauhid, dan pelanggaran terhadap tauhid agar kita tidak terjerumus padanya (pelanggaran terhadap tauhid adalah kesyirikan yaitu menyekutukan Allah).

APA ITU TAUHID & BAGAIMANA PERWUJUDAN TAUHID?
Tauhid ada 3 macam, yaitu :
1. Tauhid Rubbubiyah
2. Tauhid Uluhiyah
3. Tauhid Asma wa Shifat
Sesungguhnya kita baru mewujudkan tauhid kalau kita mewujudkan ke-3-nya

1. Tauhid Rubbubiyah
Adalah mengakui bahwa Allah satu-satunya Tuhan yang menciptakan & mematikan, yang mengatur & memelihara alam semesta, yang melakukan segalanya.
Jadi tauhid Rubbubiyah adalah yang berkaitan dengan perbuatan & kekuasaan Allah subhanahu wa ta'ala.
Ayat-ayat dalam Al-Qur’an tentang tauhid Rububiyah :

- Pencipta seluruh makhluk.
"Allah menciptakan segala sesuatu dan Allah memelihara segala sesuatu." (QS. Az-Zumar (39) : 62 )

- Pemberi rizki kepada seluruh manusia dan makhluk lainnya.
"Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah lah yang memberi rezekinya…"
(QS. Hud (11) : 6 )


2. Tauhid Uluhiyah
Adalah Allah satu-satunya tujuan ibadah kita(hamba). Hanya kepada Allah segala tujuan peribadahan, hanya karena Allah segala peribadahan. Jadi kita meng-ikhlash-kan ibadah kita, yaitu kepada Allah & karena Allah.
Jadi Tauhid Uluhiyah adalah yang berkaitan dengan segala bentuk & tujuan peribadahan hamba kepada Allah.

Allah berfirman :
Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.
( QS. Adz-Dzariyat (51) : 56 )


Bentuk & tujuan peribadahan di sini termasuk : ketaatan (menjalankan sesuatu & meninggalkan sesuatu), berdo'a & menyeru, memohon pertolongan & bertawakal, bernadzar, bersumpah, menyembelih binatang dalam rangka mendekatkan diri, dan segala bentuk pendekatan diri kepada Allah.

Tauhid inilah yang dituntut harus ditunaikan oleh setiap hamba sesuai dengan kehendak Allah sebagai konsekuensi dari pengakuan mereka tentang Rubbubiyah dan kesempurnaan nama dan sifat Allah.

3. Tauhid Asma wa Shifat
Asma berarti nama
Shifat berarti sifat
Jadi Tauhid Asma wa Shifat, adalah perwujudan tauhid yang berkaitan dengan nama-nama dan sifat-sifat Allah, yaitu bahwa nama-nama dan sifat-sifat yang telah Allah beri-tahukan dalam firman-firmanNYA dan yang Rasulullah sampaikan dalam hadits.
Apakah penting untuk mengetahui nama-nama dan sifat-sifat Allah?
Jika kita bersaksi tuhan kita dalah Allah, apakah kita sudah mengenal Allah?
Untuk mengenal Allah yaitu dengan mengetahui nama-nama dan sifat-sifatNYA, seperti yang Allah sendiri beritakan dalam firman-firmanNYA, dan Rasulullah sampaikan dalam hadits (karena sesungguhnya Rasulullah berbicara berdasarkan wahyu).
Nama-nama dan sifat-sifat Allah bisa kita ketahui dalam Asma ul-Husna, seperti Ar-Rahman (Yang Maha Pengasih), Ar-Rahim (Yang Maha Penyayang), Al-Kholiq (Yang Maha Pencipta), Al-Aziz (Yang Maha Kuasa), Al-Hadi (Yang Maha Pemberi Petunjuk), Al-Wahhab (Yang Maha Pengkarunia), dan lain-lain.
Dengan mengenal nama-nama & sifat-sifat Allah, membantu kita saat kita berdo'a dan memohon pada Allah, seperti yang Allah firmankan :
"Allah mempunyai asmaa ul-husna , maka bermohonlah kepada-NYA dengan menyebut asma ul-husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-namaNYA. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan."
( QS. Al-A'raf (7) : 180)

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam tauhid Asma dan Sifat adalah sebagai berikut:
Menetapkan semua nama dan sifat tidak menafikan dan menolaknya.
Tidak melampaui batas dengan menamai atau mensifati Allah di luar yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya.
Tidak menyerupakan nama dan sifat Allah dengan nama dan sifat makhluk-Nya.
Tidak mencari tahu tentang hakikat bentuk sifat-sifat Allah.
Beribadah kepada Allah sesuai dengan tuntutan asma dan sifat-Nya.

Tauhid akan terwujud melalui perwujudan ke-3 tauhid tersebut, mengingkari salah satu saja berarti belum bertauhid. Seperti yang terjadi pada kaum Quraisy, mereka mengakui Allah sebagai pencipta (tauhid Rubbubiyah), tetapi mereka juga menyembah berhala (mengingkari tauhid uluhiyah). Seperti yang Allah firmankan :
Dan sungguh, jika engkau bertanya kepada mereka, "Siapakah yang menciptakan langit dan bumi? "Niscaya mereka menjawab "Allah". Katakanlah, "Maka terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu seru selain Allah, jika Allah hendak mendatangkan kemudharatan kepadaku, apakah berhala-berhalamu itu dapat menghilangkan kemudharatan itu, atau jika Allah hendak memberi rahmat kepadaku, apakah mereka dapat menahan rahmat-NYA?" Katakanlah : "Cukuplah Allah bagiku." KepadaNYA-lah bertawakal orang-orang yang berserah diri."
( QS. Az-Zumar (39) : 38 )
Karena pengingkaran kaum Quraisy terhadap tauhid uluhiyah mereka tetap kafir.

Jika kita melihat fenomena yang ada sekarang, banyak umat Islam yang meminta tolong & bertawakal pada selain Allah, menggunakan jimat karena percaya jimat tersebut dapat membawa manfaat dan menghindarkan dari mudharat, mendatangi dan mempercayai dukun/paranormal/"orang pintar" untuk menanyakan hal-hal ghoib dan meminta pertolongan, mendatangi kuburan untuk menyampaikan hajat & meminta pertolongan, menyembelih binatang bukan karena Allah, dan bentuk-bentuk kesyirikan lain yang telah merajalela. Hal ini menunjukkan lemahnya keimanan dan kurangnya perwujudan tauhid mereka terhadap Allah subhanahu wa ta'ala.


Pentingnya Akidah Tauhid Dalam Kehidupan Seorang Muslim

Sebagai seorang muslim kita hendaknya memahami tauhid dan mengerti betapa pentingnya akidah tauhid dalam diri kita. Akidah tauhid merupakan landasan diterimanya amal. Jika kita tergelincir pada kesyirikan maka terhapuslah seluruh amalan kita. Allah tidak akan pernah menerima amalan pelaku kesyirikan sampai dia meninggalkan kesyirikan. Allah berfirman :
Dan sesungguhnya telah diwahtukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. "Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi."
( QS. Az-Zumar (39) : 65)

Kadang ada orang yang banyak melakukan ibadah, tetapi ternyata dia masih melakukan kesyirikan dan mempersekutukan Allah, dia berdo'a, menyembelih, dan bernadzar untuk selain Allah. Hal ini dapat terjadi karena kurangnya pemahamannya terhadap tauhid, sehingga dia melanggar tauhid karena ketidak tahuannya. Maka seharusnya setiap muslim memahami makna tauhid, sehingga dapat mengamalkan dan mewujudkannya dalam kehidupannya. Dan untuk memahaminya ialah denagn mempelajari atau mencari ilmu tentang tauhid dan Islam yang hak.

Alangkah malangnya nasib sesorang yang dia menghadap Allah di hari kiamat saat dirinya belum bertauhid, dia tergelincir pada kesyirikan karena kurangnya bekal imu tentang tauhid. Allah berfirman :
"Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun."
( QS. Al-Ma'idah (5) : 72 )

Tauhid merupakan hal yang sangat penting, memurnikan ibadah hanya kepada Allah. Rasulullah bersabda dalam hadits qudsi :
bahwa Allah berkata di hari kiamat :
"Wahai anak Adam, jika engkau datang menghadapku membawa sebesar dunia dosa-dosa, kemudian engkau menjumpaiku dan tidak mempersekutukanku maka aku akan datangkan sebesar itu pula pengampunan."
( HR. At-Tirmidzi )

Hadits tersebut menjelaskan kepada kita bahwa terbukanya ampunan Allah meski dosanya amat banyak selama tidak menyekutukan Allah (syirik). Syirik merupakan dosa terbesar, dan tidak bisa diampuni selama pelakunya tidak bertaubat selama hidupnya. Sedangkan jika pelakunya bertaubat sebelum nyawa sampai kerongkongan dan selama matahari belum terbit dari barat, maka Allah akan mengampuninya. Seperti yang ada dalam Al-Qur'an dan Hadits :

"Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) karena mempersekutukan-NYA (syirik), dan DIA mengampuni apa (dosa) yang selain (syirik) itu bagi siapa saja yang DIA kehendaki. Barangsiapa mempersekutukan Allah, maka sungguh, dia telah berbuat dosa yang besar."
(QS. An-Nisaa (4) : 48)

Rasulullah bersabda :
“Sesungguhnya Allah menerima taubat seorang hamba selama nyawa belum sampai kerongkongan.”
(HR. At-Tirmidzi )

Rasulullah bersabda :
“Barangsiapa yang bertaubat sebelum matahari terbit dari barat, maka Allah akan menerima taubatnya.”
(HR. Muslim)


Tauhid Jalan Keselamatan & Kunci Menuju Surga

Begitu pentingnya masalah tauhid sehingga betapa berharganya nyawa dan darah seorang ahli tauhid (orang yang bertauhid) bagi Allah, Rasulullah menyebutkan bahwa hancurnya dunia beserta isinya lebih sederhana bagi Allah dari pada menumpahkan darah seorang mukmin. Hancurnya bangunan ka'bah lebih ringan dari pada membunuh jiwa seorang mukmin ahli tauhid.

Allah berfirman :
"Dan adapun orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman dengan kedzaliman, bagi mereka jaminan keamanan dan mereka mendapat petunjuk."
( QS. Al'An'am (6) : 82 )

Kedzaliman yang dimaksud dalam ayat di atas ialah syirik, seperti yang tercantum dalam surat Luqman (31) ayat 13, yaitu :
"Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya, "Wahai anakku! Janganlah mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kedzaliman yang besar."
( QS. Luqman (31) : 13 )

Dengan tauhid seorang mukmin terjamin keselamatannya dari siksa neraka, Rasulullah bersabda :
"Akan dikeluarkan dari dalam neraka orang-orang yang hatinya terdapat sebesar biji dzarrah (sawi) dari keimanan."

Dan Rasulullah juga bersabda :
”Barang siapa yang akhir perkataannya sebelum meninggal dunia adalah ‘laa ilaha illallah’, maka dia akan masuk surga”
(HR. Abu Dawud, derajat hadits : shahih)

Semoga Allah senatiasa memberi petunjuk kepada kita untuk men-tauhid-kannya, sehingga mengantarkan kita kepada surga-NYA, Amiin…

“Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah mudahkan baginya jalan menuju surga.”
( HR. Muslim )

Sumber :
1. Kitab Tauhid Pemurnian Ibadah Kepada Allah, Syaikh Muhammad at-Tamimi, Penerbit : Darul Haq
2. Artikel : Pentingnya Akidah Tauhid, majalah As-Saliim

Wednesday, July 8, 2009

Verse of the day_Menaati Allah DAN Rasul-NYA

Zaman sekolah, dulu diajarkan pada kita sumber hukum dalam Islam ada 2, yaitu :
1. Al-Qur'an
2. As-Sunnah
ada penomorannya....hierarki...
apakah memang demikian?
Klo mau mengkaji ayat2 Al-Qur'an....Allah telah berfirman agar kita senantiasa menaati-NYA dan Rasul-NYA...
kata "dan"nya itu...berarti Al-Qur'an & as-Sunnah tidak dapat berdiri sendiri2....jadi ke-2nya tak dpt dipisahkan (kita ngga bisa memilih untuk hanya mengikuti Al-Qur'an saja atau Sunnah saja, ke-2nya saling terkait).

Al-Qur'an banyak memuat hal2 yang bersifat umum (misal perintah shalat, zakat, puasa, dll).
Dari sunnah Rasulullah shalallahu alaihi wassalam-lah kita tau tata-caranya.

Beberapa ayat2 di bawah ini yang menyatakan untuk menaati Allah & Rasul :

Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan Ulil Amri (pemimpin) di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.
( QS. an-Nisa' (4) : 59 )

Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah mendinding antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan.
( QS. al-Anfal (8) : 24 )

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.
( QS. al-Ahzab (33) : 21 )