Saturday, June 26, 2010

Indahnya Bersyukur

Bismillahir-rahman-ir-rahim
Dengan menyebut nama Allah, Yang Maha Pengasih lagi Maha Pengasih

Salah satu kaidah merasakan kebahagiaan dalam hidup adalah dengan bersyukur.
Bersyukur, sebuah kata sederhana, yang sudah amat sangat kita kenal.
Lalu bagaimana bersyukur? memaknai rasa syukur?

Syukur berasal dari bahasa Arab yang artinya rasa terima kasih kepada Allah. (arti syukur dalam KBBI)
Bersyukur erat kaitannya dengan suatu nikmat, yaitu anugerah & karunia dari Allah subhanahu wa ta'ala.

Memaknai rasa syukur adalah dengan bersyukur (mewujudkan rasa syukur), seperti halnya beriman yaitu membenarkan dalam hati, mengucapkan dengan lisan dan membenarkan(mewujudkan) dengan amal perbuatan, begitu juga bersyukur.



BERSYUKUR DENGAN HATI, LISAN, & AMAL PERBUATAN

BERYUKUR DENGAN HATI

Untuk dapat mensyukuri nikmat dengan hati kita, maka dengan:
1. Menyadari nikmat-nikmat yang kita peroleh, dari yang kecil & dekat,
2. Merasa cukup dengan nikmat yang kita peroleh

1. Menyadari nikmat-nikmat yang kita peroleh, dari yang kecil & dekat
Jika kita mencoba merenungkan segala yang kita punyai & kita peroleh maka akan membantu kita untuk menyadari nikmat-nikmat Allah subhanahu wa ta'ala.
Menyadari nikmat, dari nikmat-nikmat yang mungkin kita anggap sederhana dan kecil.

Cobalah merenungkan dari nikmat yang dekat.
* Pagi hari saat kita bangun, kita dapat bernafas menghirup udara segar, di luar sana mungkin ada orang yang tidak mudah untuk bernafas tanpa alat bantu, atau ada beberapa orang yang bisa bernafas tetapi tempatnya tinggal berudara kurang segar
* Lalu kita pun memulai aktivitas hari itu, kita dapat sarapan dengan tenang, di luar sana mungkin ada orang yang tidak mampu untuk menyediakan sesuatu untuk sarapannya.
* Kita berangkat untuk aktivitas hari itu, berjalan kaki, naik kendaraan pribadi, atau naik kendaraan umum. Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, yang masih memberi kita kaki untuk berjalan, atas kendaraan yang kita miliki, dan atas uang yang kita miliki untuk kita membayar ongkos kendaraan umum. Di luar sana, tidak semua orang memilikinya, ada orang yang tidak dapat berjalan dengan kakinya, atau ada yang tidak punya kendaraan, atau tidak punya uang untuk membayar ongkos kendaraan umum.
* Kita beraktivitas, bekerja mencari nafkah (ma'isyah), mungkin kita merasa sedikit keletihan, di luar sana ada orang yang mungkin belum mendapatkan pekerjaan.
* Kita pulang kembali ke rumah, berkumpul dengan keluarga-orang-orang tercinta, di luar sana mungkin ada orang yang tidak dapat sering berkumpul dengan keluarganya, atau bahkan ada orang yang tidak punya keluarga.

Dapat bernafas dengan lega, makan dengan cukup, dan berkumpul denagn orang-orang tercinta, mungkin jarang kita sadari bahwa itu merupakan nikmat. Karena hal-hal tersebut hal-hal yang sudah sehari-hari kita dapatkan. Sungguh jika kita menyadari nikmat, begitu banyak nikmat Allah subhanahu wa ta'ala. Belum lagi dengan sesuatu yang melekat pada badan kita, 2 mata yang dapat melihat berbagai hal, 2 telinga yang dapat mendengar berbagai suara, 2 tangan untuk membantu & memudahkan aktivitas kita.

Allah ta'ala berfirman :
Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sungguh, Allah benar-benar Maha Pengampun, Maha Penyayang."
( QS. An-Nahl (16) : 18 )

Bersyukur atas nikmat yang kecil, membantu kita untuk bersyukur atas nikmat yang besar.
Sesungguhnya Nabi kita, sudah mengajarkan bagaimana bersyukur,

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
"Lihatlah orang yang berada di bawahmu (dalam masalah harta & dunia) dan jangan kamu melihat orang yang berada di atasmu, karena yang demikian itu lebih pantas, agar kamu semua tidak menganggap remeh nikmat Allah yang telah dikaruniakan kepadamu."
( HR. Bukhari & Muslim, hadits ini lafadz Muslim )

Dari Ubaidillah bin Muhshan Al Anshari, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
"Siapa saja di antara kalian yang pada waktu pagi merasa aman rumah-tangganya, sehat badannya, dan mempunyai makanan untuk hari itu maka seolah-olah dia telah mendapatkan kebahagiaan dunia dengan semua kesempurnaannya."
( HR. Tirmidzi, derajat hadits : hasan/baik )

“Barangsiapa tidak mensyukuri yang sedikit maka dia tidak akan mensyukuri atas yang banyak dan barangsiapa yang tidak berterima kasih kepada manusia maka dia tidak bersyukur kepada Allah. Menceritakan sebuah nikmat (yang didapati) kepada orang lain termasuk dari syukur dan meninggalkannya adalah kufur, bersatu adalah rahmat dan bercerai berai adalah azab.”
(HR. Ahmad dari An-Nu’man bin Basyir)


2. Merasa cukup dengan nikmat yang kita peroleh
Merasa cukup akan sangat membantu kita untuk bersyukur.

Dari Hakim bin Hizam, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
"Siapa saja yang menjaga kehormatan dirinya, maka Allah subhanahu wa ta'ala akan menjaganya; dan siapa saja yang merasa cukup, maka Allah subhanahu wa ta'ala akan mencukupkannya."
( HR. Bukhari & Muslim )

Dari Abdullah bin 'Amr bin Al 'Ash, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
"Sungguh beruntung orang yang telah masuk Islam, rezekinya cukup, dan Allah memberikan kepuasan (rasa cukup) terhadap apa yang telah dikaruniakan-NYA."
( HR. Muslim )



BERSYUKUR DENGAN LISAN

Setelah mensyukuri nikmat dalam hati, maka selanjutnya bersyukur dengan lisan kita. Ucapan lisan kita akan semakin menyadarkan dan menguatkan kesyukuran kita. Seperi halnya dalm sholat, saat kita membaca do'a sholat, kita diperintahkan untuk menggerakkan bibir kita, bukan cuma membacanya dalam hati, hal itu untuk lebih memyadarkan kita, sehingga kita lebih sadar dan memahami apa yang kita panjatkan, bukan cuma hafalan yang keluar secara otomatis, karena begitu seringnya kita mengulang-ulangnya.

Allah ta'ala berfirman :
Dan terhadap nikmat Tuhanmu, hendaklah engkau nyatakan (dengan bersyukur).
( QS. Adh-Dhuha (92) : 11 )

Bersyukur kepada Allah yang paling sederhana dengan mengucapkan Alhamdulillah, Segala puji bagi Allah.
Sebuah ucapan syukur, sekaligus akan dicatat sebagai sedekah ( tahmid(Alhamdulillah) adalah sedekah, HR. Muslim ).
Selain Alhamdulillah, bisa juga dengan menucapkan Subhanallahi wabihamdih ( Maha Suci Allah dan aku memuji-NYA ), kalimat tersebut juga merupakan kalimat yang ringan di lisan berat dalam timangan amal, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits,

dari Abu Hurairah ia berkata, Rasulullah shallallalhu 'alaihi wasallam bersabda :
Ada 2 buah kalimat yang ringan lisan namun berat di timbangan, dan ke-2nya dicintai Ar-Rahman, yaitu Subhanallahi wabihamdih (Maha Suci Allah dan aku memuji-NYA) dan Subhanallahil 'adzim (Maha Suci Allah Yang Maha Agung ).
( HR. Bukhari & Muslim )

Alhamdulillah & Subhanallahi wabihamdih, keduanya mempunyai kata "HAMD" yang merupakan ucapan pujian & syukur.

Selain dengan 2 kalimat tersebut, kita bisa mengungkapkan rasa syukur kita dengan kalimat apapun yang baik.
Sungguh dengan mengucapkan syukur berarti kita memuji Allah subhanahu wa ta'ala dan mengingat (berdzikir) -NYA, dan dicatat sebagai sedekah.
Bersyukur dengan lisan juga membantu kita untuk mengingatkan bahwa segala nikmat yang kita peroleh adalah dari Allah subhanahu wa ta'ala,

Allah ta'ala berfirman :
Dan segala nikmat yang ada padamu (datangnya) dari Allah, kemudian apabila kamu ditimpa kesengsaraan, maka kepada-NYAlah kamu meminta pertolongan."
( QS. An-Nahl (16) : 53 )

Segala nikmat adalah dari Allah, semoga kita dapat mengambil pelajaran dari kisah Qarun yang berkata bahwa segala yang dimilkinya karena ilmunya semata ( lihat QS. Al-Qoshosh (28) : 76-82 ). Dia lupa bahwa semua nikmat adalah dari Allah, yang Allah berikan lewat usaha yang kita lakukan.

Dan bersyukur, kebaikannya adalah untuk kita.
Allah ta'ala berfirman :
Maka ketika dia (Sulaiman) melihat singgasana itu terletak di hadapannya, dia pun berkata, "Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mengujiku, apakah aku bersyukur atau mengingkari (nikmat-NYA). Barangsiapa bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri, dan barangsiapa ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Mahakaya, Mahamulia."
( QS. An-Naml (27) : 40 )



BERSYUKUR DENGAN AMAL PERBUATAN

Bersyukur dengan amal perbuatan, yaitu dengan menggunakan nikmat Allah pada sesuatu yang diridhai-NYA.
Bukankah segala sesuatu adalah milik Allah dan hanya kepada-NYA lah semua kembali?
Begitu juga semua nikmat, semua milik Allah yang Allah titipkan pada kita.
Jiwa & badan kita, milik Allah, suatu saat akan kembali pada-NYA.
Keluarga kita milik Allah, suatu saat akan kembali pada-NYA.
Harta kita milik Allah, dan bukan suatu yang kekal kita miliki.

Bersyukur dengan amal perbuatan, dengan mempertanggung-jawabkan segala nikmat Allah subhanahu wa ta'ala.
Menggunakannya pada sesuatu yang diridhai Allah subhanahu wa ta'ala.
Maka bersyukur tak lain ada pada ketaatan & ketakwaan kepada Allah subhanahu wa ta'ala.
Menggunakannya pada sesuatu yang baik & dihalalkan, dan menjaganya dari sesuatu yang buruk & diharamkan.

Allah ta'ala berfirman :
"Kemudian kamu benar-benar akan ditanya pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu)."
( QS. At-Takatsur (102) : 8 )

Allah ta'ala berfirman :
Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengatakan, "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya AKU akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-KU), maka sesungguhnya adzab-KU sangat pedih."
( QS. Ibrahim (14) : 7 )

Allah telah mengingatkan kita atas nikmat-NYA dan mengingatkan untuk bersyukur. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengingatkan juga atas pertanggung-jawaban nikmat.

Dari Abu Sa'id Al Khudri, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
"Sesungguhnya dunia ini manis dan mempesonakan, dan sesungguhnya Allah subhanahu wata'ala menyerahkannya kepada kalian. Kemudian Allah akan melihat bagaimana kalian berbuat atas dunia ini."
( HR. Muslim )



Semoga Allah subhanahu wa ta'ala senantiasa memudahkan kita untuk meraih kebahagiaan di dunia & akhirat.
Memudahkan kita untuk menjalani kehidupan dalam naungan nikmat Islam & iman.
Memudahkan kita memperoleh ridha & rahmat-NYA, memudahkan kita menuju surga-NYA.
Amiin....



Allohumma inniy 'ala dzikrika, ( Ya Allah bantulah untuk berdzikir/mengingat-MU )
wa syukrika, ( dan bersyukur kepada-MU )
wa husni 'ibadatik ( dan beribadah dengan baik kepada-MU )

( HR. Abu Dawud, An-Nasa'i, Ahmad, Al-Hakim, derajat hadits : shahih )

Rasulullah shallallahu 'alahi wasallam mengajarkan do'a pada Muadz, untuk mengucapkan do'a tersebut setiap setelah shalat fardhu/wajib.


Do’a agar dijadikan hamba yang bersyukur :
Robbiy auzi’niy an asy-kuro ni’matikal-latiy an ‘amta ‘alayya wa ‘ala waalidayya
wa an a’mala shoolihaan tardhoohu
wa ad-khilniy birohmatika fiy ‘ibaadikash-shoolihiin

artinya :

“Ya Rabb-ku, anugerahkanlah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-MU yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku
dan agar aku mengerjakan amal shalih yang Engkau ridhai;
dan masukkanlah aku dengan rahmat-MU ke dalam golongan hamba-hamba-MU yang shalih.
( QS. An-Naml (27) : 19 )



Rujukan :
Al-Qur'an & Terjemahannya
Kitab Hadits : Shahih Riyadush-Shalihin, susunan Imam Nawawi
Buku : Dzikir Pagi Petang & Sesudah Shalat Fardhu Menurut Al-Qur'an dan as-Sunnah yang Shahih,
susunan ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawaz, Penerbit : Pustaka Imam Asy-Syafi'i
Buku : Menakjubkan! Potret Hidup Insan Beriman, karangan Dr. 'Aidh Al-Qarni, Penerbit : AQWAM
http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/mengingkari-nikmat-allah.html
http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=467
http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/index.php
http://muslim.or.id/doa-dan-wirid/ringan-di-lisan-berat-di-timbangan.html



"Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah mudahkan baginya jalan menuju surga."
( HR. Muslim )

Sunday, June 13, 2010

Sedekah Itu Mudah

Bismillah-ir-RAHMAN-ir-RAHIM
Dengan menyebut nama Allah, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

Allah ta'ala berfirman :
"Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (infakkan) maka pahalanya (kebaikannya) itu untuk kamu sendiri, dan janganlah kamu membelanjakan (menginfakkan) sesuatu melainkan karena mencari ridha Allah. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (infakkan), niscaya kamu akan diberi pahalanya dengan sempurna, dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan) sedikitpun."
( QS. Al-Baqarah (2) : 272 )


Dari Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah bersabda,
"Tiadalah harta itu berkurang karena sedekah. Allah subhanahu wa ta'ala tidak akan menambahkan kepada seseorang yang suka memaafkan melainkan DIA akan memuliakannya, dan tidaklah seorang yang merendahkan diri karena Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Agung akan mengangkat derajatnya."
( HR. Muslim )


FADHILAH/KEUTAMAAN SEDEKAH
* Melaksankan perintah Allah subhanahu wa ta'ala
* Dihapus kesalahan dan diampuni dosa
* Membersihkan diri & mensucikan jiwa
* Menjaga dari kekikiran
* Memudahkan jalan menuju kemudahan (kebahagiaan)
* Berbagi dengan sesama
* Dido'akan oleh malaikat
* Sedekah untuk keluarga atau kerabat mendapat dua pahala, yaitu pahala bersedekah & pahala menyambung silatuhrrahim
* Sedekah jariyah amalnya akan terus mengalir meskipun yang memberikannya sudah meninggal


SEBAIK-BAIK SEDEKAH
* Sedekah di saat masih sehat
* Sedekah di saat ingin kaya & takut miskin
* Sedekah secara rutin, meski sedikit (sesuatu yang kecil tetapi rutin lebih utama daripada sesuatu yang besar tapi jarang)


SEDEKAH ITU MUDAH
* Senyum adalah sedekah
* Tutur kata yang baik adalah sedekah
* Menafkahi keluarga karena mencari keridhaan Allah adalah sedekah
* Tasbih, Tahmid, Tahlil, & Takbir adalah sedekah
* Mengajak kepada kebaikan (amar ma'ruf) adalah sedekah
* Mencegah kemunkaran/keburukan (nahi munkar) adalah sedekah
* Menyingkirkan gangguan dari jalan adalah sedekah
* Mendatangi istri adalah sedekah
* Setiap langkah dalam berjalan untuk melaksanakan shalat adalah sedekah
* Membantu orang adalah sedekah
* Berbuat baik adalah sedekah
* Tidak berbuat kejahatan adalah sedekah
* Shalat Dhuha adalah sedekah yang mencukupi sedekah untuk 360 persendian manusia


SEDEKAH DARI YANG TERDEKAT
* Sedekah kepada keluarga
* Menafkahi keluarga karena mencari keridhaan Allah
* Mengajak keluarga ketaatan & ketakwaan kepada Allah
* Mencegah keluarga dari kemungkaran & kemaksiatan (melanggar hukum Allah)
* Berwajah berseri & bertutur kata dalam keluarga
* Sedekah kepada kerabat
Mendapatkan 2 pahala (kebaikan), yaitu pahala sedekah dan pahala menyambung silaturrahim
* Sedekah kepada anak yatim
* Sedekah kepada tetangga
* Sedekah kepada teman
* Sedekah untuk perjuangan di jalan Allah



Segala Kebaikan Adalah Pintu Sedekah



Dari Al-Qur'an & Al-Hadits :

FADHILAH/KEUTAMAAN SEDEKAH :

* Melaksankan perintah Allah subhanahu wa ta'ala
Allah ta'ala berfirman :
"Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (infakkan) maka pahalanya (kebaikannya) itu untuk kamu sendiri, dan janganlah kamu membelanjakan (menginfakkan) sesuatu melainkan karena mencari ridha Allah. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (infakkan), niscaya kamu akan diberi pahalanya dengan sempurna, dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan) sedikitpun."
( QS. Al-Baqarah (2) : 272 )

Kamu tidak akan memperoleh kebajikan, sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai, tentang hal itu sungguh Allah Maha Mengetahui.
( QS. Ali 'Imran (3) : 92 )

Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-NYA dan infakkanlah (di jalan Allah) sebagian dari harta yang DIA menjadikan kamu sebagai penguasanya (amanah).
( QS. Al-Hadid (57) : 7 )


* Dihapus kesalahan dan diampuni dosa
Dan Allah berfirman, "Aku bersamamu." Sungguh jika kamu melaksanakan shalat dan menunaikan zakat serta beriman kepada rasul-rasul-KU dan kamu bantu mereka kepada Allah pinjaman yang baik*, pasti akan AKU hapus kesalahan-kesalahanmu, dan pasti, akan AKU masukkan ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.
( QS. Al-Ma'idah (5) : 12 )

Jika kamu meminjamkan kepada Allah dengan pinjaman yang baik, niscaya DIA melipat-gandakan (balasan) untukmu dan mengampuni kamu. Dan Allah Maha Mensyukuri, Maha Penyantun.
( QS. At-Tagabun (64) : 17 )

* pinjaman yang baik : menginfakkan harta denagn hati yang ikhlas

* Membersihkan diri & mensucikan jiwa
Yang menginfakkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkan (dirinya).
( QS. Al-Lail (92) : 18 )

* Menjaga dari kekikiran
Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah; dan infakkanlah harta yang baik untuk dirimu. Dan barangsiapa dijaga dirinya dari kekikiran, mereka itulah orang-orang yang beruntung.
( QS. At-Tagabun (64) : 16 )

* Memudahkan jalan menuju kemudahan (kebahagiaan)
Maka barangsiapa memberikan (hartanya di ajlan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan (adanya pahala) yang terbaik (surga), maka akan Kami mudahkan baginya jalan menuju kemudahan (kebahagiaan)
( QS. Al-Lail (92) : 5-7 )

* Berbagi dengan sesama
Dan pada harta benda mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta, dan orang miskin yang tidak meminta.
( QS. Adz-Dzari'at (5) : 19 )

* Dido'akan oleh malaikat
Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
"Tidaklah setiap waktu pagi melainkan ada 2 malaikat yang datang kepada para hamba, maka salah satu dari keduanya berdo'a, 'Ya Allah, berikanlah ganti kepada orang yang menafkahkan hartanya.' Malaikat yang lain berdo'a, 'Ya Allah, berilah kebinasaan bagi orang yang kikir'."
( HR. Bukhari & Muslim )

* Sedekah untuk keluarga atau kerabat mendapat dua pahala, yaitu pahala bersedekah & pahala menyambung silatuhrrahim
Rasulullah shallallahu 'aialihi wasallam bersabda,
Orang (yang bersedekah kepada kerabatnya) itu mendapat 2 pahala : pahala menyambung silaturrahim dan pahala sedekah itu sendiri.
( HR. Bukhari & Muslim, An-Nasa'i, At-Tirmidzi)

* Sedekah jariyah amalnya akan terus mengalir meskipun yang memberikannya sudah meninggal
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
"Jika manusia meninggal dunia, maka terputuslah amalnya, kecuali 3 hal; sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakannya."
( HR. Muslim )



SEBAIK-BAIK SEDEKAH

Rasulullah bersabda,
"Sedekah yang paling utama adalah engkau bersedekah ketika dalam keadaan sehat & bugar, ketika engkau menginginkan kekayaan melimpah dan takut fakir. Maka jangan tunda engkau tunda sampai ruh sampai tenggorokan baru kau katakan, "Untuk fulan sekian, dan untuk fulan sekian.' "
( HR. Bukhari & Muslim )

Karena saat seorang manusia meninggal, maka hartanya menjadi hak ahli warisnya. Dan kalaupun dia berwasiat (untuk diberikan pada selain ahli warisnya), maka maksimal adalah sepertiga dari hartanya.

Dari 'Aisyah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
"Sebaik-baik amalan yang disukai Allah subhanahu wa ta'ala adalah yang terus-menerus dikerjakan."
( HR. Bukhari & Muslim )



SEDEKAH ITU MUDAH

Dari Abu Dzar, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
"Senyummu di hadapan saudaramu (sesama muslim) adalah (bernilai) sedekah bagimu."
( HR. Tirmidzi, Ibnu Hibban, derajat hadits : dinyatakan shahih oleh Ibnu Hibban, dan dinyatakan hasan(baik) oleh Tirmidzi )

Dalam riwayat lain,
"Jangan sekali-kali engkau meremehkan suatu kebaikan walaupun hanya menemui saudaramu dengan wajah yang ramah."
( HR. Muslim )

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
"Tutur kata yang baik adalah sedekah."
( HR. Ahmad, derajat hadits : shahih )

Dari Abu Dzar dalam riwayat yang panjang, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
"Jangan berbuat kejahatan terhadap sesama manusia, karena yang demikian itu termasuk sedekah untuk dirimu."
( HR. Bukhari & Muslim )

Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
"Setiap persendian (ruas tulang) manusia sebaiknya disedekahi (oleh pemilikinya) setiap matahari terbit (sebagai pernyataan syukur kepada Allah).
Memisahkan (menyelesaikan perkara) antara 2 orang (yang berselisih) adalah sedekah.
Menolong seseorang naik ke atas kendaraannya atau mengangkat barang-barangnya ke atas kendaraannya adalah sedekah.
Berkata yang baik juga termasuk sedekah.
Begitu pula setiap langkah berjalan untuk melaksanakan shalat adalah sedekah.
Serta menyingkirkan suatu rintangan dari jalan adalah sedekah.
( HR. Bukhari & Muslim )

"Sesungguhnya setiap manusia keturunan Adam diciptakan memiliki 360 persendian."
( HR. Muslim )

Dari Abu Dzar, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
"Setiap persendian (ruas tulang) kalian terdapat sedekah.
Maka setiap bacaan tasbih (Subhanallah) adalah sedekah, setiap bacaan tahmid (Alhamdulillah) adalah sedekah, setiap bacaan tahlil (Laa ilahailallah ) adalah sedekah, dan setiap bacaan takbir (Allahu Akbar) adalah sedekah.
Begitu juga amar ma'ruf (menyeru kebaikan) dan nahi munkar (melarang dari kemungkaran) adalah sedekah.
2 raka'at yang dikerjakan seseorang pada shalat Dhuha telah mencakup semuanya."
( HR. Muslim )


Dalam riwayat yang lain,

Dari Abu Dzar, ia berkata,
"Sesungguhnya sebagian dari para sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berkata kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam,
"Wahai Rasulullah, orang-orang kaya lebih banyak mendapatkan pahala, mereka mengerjakan shalat sebagaimana kami shalat, mereka berpuasa sebagaimana kami berpuasa, dan mereka bersedekah dengan kelebihan harta mereka."

Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
"Bukankah Allah telah menjadikan bagi kamu sesuatu untuk bersedekah?
Sesungguhnya tiap-tiap tasbih adalah sedekah, tiap-tiap tahmid adalah sedekah, tiap-tiap tahlil adalah sedekah, menyuruh kebaikan adalah sedekah, mencegah kemungkaran adalah sedekah, dan persetubuhan salah seorang di antara kamu (dengan istrinya) adalah sedekah."
Mereka bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah (jika) salah seorang di antara kami memenuhi syahwatnya, ia mendapat pahala?"

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab, "Tahukah engkau jika seseorang memenuhi syahwatnya pada yang haram, dia berdosa. Demikian pula jika ia memenuhi syahwatnya itu pada yang halal, ia mendapat pahala."
( HR. Muslim )



SEDEKAH DARI YANG TERDEKAT

Allah ta'ala berfirman:
Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-NYA dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahaya yang kamu miliki. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri,
( QS. An-Nisaa (4) : 36 )

Dari Sa'ad bin Abi Waqqash, ia berkata, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
"Apa saja yang kamu nafkahkan dengan tujuan mencari keridhaan Allah, niscaya akan diberi pahala oleh Allah subhanahu wa ta'ala, hingga apa saja yang kamu sediakan untuk istrimu juga kan diberi ganjaran oleh Allah."
( HR. Bukhari & Muslim )

Dari Abu Hurairah, ia berkata, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
"Satu dinar yang kamu nafkahkan di jalan Allah,
satu dinar yang kamu keluarkan untuk memerdekakan seorang budak,
satu dinar yang kamu berikan untuk orang miskin,
dan satu dinar yang kamu nafkahkan untuk keluargamu,
maka yang paling besar pahalanya adalah yang kamu nafkahkan kepada keluargamu."
( HR. Muslim )

Dari Abu Mas'ud, dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
"Jika seseorang menafkahkan untuk keluarganya dengan penuh keikhlasan semata-mata karena Allah, maka hal itu akan dicatat sebagai sedekah baginya."
( HR. Bukhari & Muslim )

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
"Tangan yang di atas (yang memberi) lebih mulia daripada tangan yang di bawah (yang menerima), dan utamakanlah orang yang menjadi tanggunganmu. Sebaik-baik sedekah adaah sedekah orang-orang yang berkecukupan (setelah ia menyisakan untuk tanggungan istri & keluarganya_red).
Siapa saja yang menjaga kehormatannya, maka Allah akan menjaga kehormatannya.
Siapa saja yang (selalu) merasa cukup, Allah akan mencukupinya."
( HR. Bukhari )

Dari Abu Dzar, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
"Wahai Abu Dzar! jika engkau memasak makanan berkuah, maka perbanyaklah kuahnya, dan ingatlah (bagikanlah) tetanggamu."
( HR. Muslim )

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
"Wahai kamu muslimah, jangan sekali-kali memandang enteng pemberian seorang tetangga kepada tetangganya sekalipun hanya kikil kambing."
( HR. Bukhari & Muslim )




Segala Kebaikan Adalah Pintu Sedekah




Do'a Agar Dijauhkan dari Sifat Kikir :

"Allahuma inniy 'a'udzubika minal bukhli ( Ya Allah aku berlindung pada-MU dari bakhil/rasa kikir)
wa a'udzubika minal jubni ( dan aku berlindung pada-MU dari rasa takut)
wa a'udzubika min an uroda arzalil umri ( dan aku berlindung pada-MU dari kepikunan)
wa a'udzubika min fitnati dun-ya ( dan aku berlindung pada-MU dari fitnah/cobaan dunia )
wa a'udzubika min 'adzabil qobri ( dan aku berlindung pada-MU dari adzab/siksa kubur )

Rasulullah biasa membaca do'a tersebut setiap setelah shalat fardhu/wajib.



Rujukan :
Al-Qur'an dan Terjemahannya
Kitab Hadits : Shahih Riyadhush Shalihin, Imam Nawawi
Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Rumaysho.Com
Buletin : Ash-Shadaqah Fadhailuha wa Anwa'uha, Ali bin Muhammad al-Dihami ( http://www.alsofwah.or.id/cetakannur.php?id=304 )

Sunday, June 6, 2010

Renungan... Mencintai Allah, Rasul-NYA, dan Makhluk-NYA

Bismillah, Dengan menyebut nama Allah


Apa hal yang membahagiakan?
bersama orang yang kita cintai dan mencintai kita...

Cinta, kasih sayang...
perasaan yang membahagiakan kita...
fitrah (naluri) yang ada pada seluruh makhluk
salah satu karunia dari Allah subhanahu wa ta'ala untuk hamba-hambaNYA...

Siapa yang kita cintai?
siapa yang mencintai kita?
orang tua kita, keluarga kita, sahabat-sahabat kita, pasangan kita?
mungkin sebagian besar dari kita akan menyebutkan orang-orang terdekat kita...

Mungkin kita dengan mudah menyebutkan mereka sebagai orang yang kita cintai, dan kita merasakan mereka mencintai kita...
karena mereka hidup bersama kita, di sekitar kita, kita melihatnya, mendengar suaranya, berinteraksi bersama mereka...
kita mengenal mereka, mengenal sifat-sifatnya, memahami mereka...
dan kita merasa nyaman bersama mereka...

Rasulullah bersabda :
"3 hal jika seseorang memiliki ketiganya, ia akan merasakan manisnya iman,
pertama, mencintai Allah dan Rasul-NYA, lebih dari cintanya kepada yang lain,
kedua, mencintai seseorang hanya karena Allah,
ketiga, enggan untuk kembali kepada kekafiran, setelah Allah menyelamatkannya dari kekafiran, sebagaimana enggannya dia untuk dilemparkan ke dalam api neraka."
( HR. Bukhari & Muslim )

Bagaimana dengan cinta kita kepada Allah dan Rasul-NYA?
apakah kita mencintai Allah sebagai cinta teratas dari segala rasa cinta kita?
apakah kita mencintai Rasulullah sebagai cinta teratas kita atas semua makhluk Allah?
mungkin kita "merasa" mencintai Allah & Rasulullah, tapi apakah kita sudah "memaknai" dan "mewujudkan" kecintaan tersebut...

Allah Ta'ala berfirman :
"Katakanlah (Muhammad) : jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku (Muhammad), niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.
( QS. Ali-Imran (3) : 31 )

Apa tanda kecintaan?
saat kita mencintai sesuatu...
kita senantiasa mengingatnya,
kita senang bersamanya, merasa nyaman bersamanya,
kita merindukannya...
kita mencintai apa yang dicintainya,

Bagaimana kecintaan kita kepada Allah?
mengapa tak mudah untuk mengingat Allah dalam setiap waktu kita? mengapa kita baru mengingatnya saat membutuhkannya...
mengapa tak mudah merasa nikmatnya ibadah-ibadah kita? padahal saat itulah saat terbaik mendekati-NYA...
mengapa belum pernah merasakan kerinduan kepada Allah, merindukan memahami firman-firmanNYA, rindu untuk beribadah mendekati-NYA...
mengapa terkadang kita tak menyukai apa yang dicintai & diridhai-NYA...

Bagaimana kecintaan kita kepada Rasulullah?
mengapa kita jarang mengikuti sunnah beliau...
mengapa terasa berat mengamalkan sunah-sunnah beliau dan hidup bersama sunnahnya...
mengapa jarang merasa merindukan untuk mengikuti jalan beliau...
mengapa terkadang kita merasa kurang menyukai sunnah beliau...

Apakah kita belum memiliki kecintaan kepada Allah & Rasulullah?
Kita sadari atau tidak, kecil atau besar, di lubuk hati kita memiliki rasa cinta kepada Allah, Rasulullah, dan Islam...
Kita mengagungkan Allah, Rasulullah, dan Islam, kita tak rela saat ada yang melecehkannya...
Tapi mungkin baru sebatas dalam lubuk hati, belum mewujudkannya dalam kehidupan kita...
Mungkin kita belum merasakan kecintaan tersebut dengan kesadaran, merasakan senantiasa mengingat Allah, merasakan kerinduan pada-NYA...

Menumbuhkan kecintaan kepada Allah dan Rasulullah...
kita mencintai sesuatu, maka kita akan senantiasa mengingatnya...
kita berusaha mengenalnya, memahaminya...
dengan mengenalnya, mengenal sifat-sifatnya, kita akan memahaminya...
semakin tumbuh dan bersemilah rasa cinta, dan berkembang seiring kebersamaan dan kedekatan...

Mencintai Allah....
Memiliki kecintaan kepada Allah dan Rasulullah, melalui suatu proses...
dengan belajar mencintai & berusaha mencintai...

Maka mulailah mengenali Allah,
mengenal nama-nama & sifat-sifatNYA yang agung (Asma ul-Husna),
yang telah Allah kabarkan lewat firman-NYA (Al-Qur'an) dan telah Rasul-NYA sampaikan (Al-Hadits, karena apa yang Rasulullah ucapkan adalah wahyu dari Allah)
mendekati-NYA, dengan ibadah yang Allah perintahkan dan Rasulullah contohkan,
mendekati-NYA, dengan do'a-do'a yang kita panjatkan...
merindukan-NYA, merindukan dengan mengingat-NYA (lewat dzikir, dengan lafadz dzikir yang ada dalam Al-Qur'an dan Al-Hadits)
merindukan-NYA, merindukan untuk mendekati-NYA...
merasakan cinta-NYA dan kasih sayang-NYA, lewat ciptaan-ciptaan-NYA, menakjubkannya alam semesta...
merasakan cinta-NYA dan kasih sayang-NYA, lewat cinta-NYA yang DIA berikan lewat makhluk-makhluk-NYA...

Sungguh Allah sangat mencintai hamba-NYA yang mendekati-NYA, dalam hadits qudsi, Rasulullah bersabda, Allah berfirman :
Tidaklah hamba-KU mendekatkan diri kepada-KU dengan sesuatu yang lebih AKU sukai daripada apa yang telah AKU wajibkan atasnya. Hamba-KU terus menerus mendekatkan diri kepada-KU dengan amalam-amalan sunnah sehingga AKU mencintainya.
( HR. Bukhari )

Rasa cinta kepada Allah selaras dengan rasa cinta kepada Rasul-NYA,
Menumbuhkan rasa cinta tersebut dengan pendekatan diri dengan amalan yang telah Allah beritakan dan Rasul-NYA contohkan...

Semoga kita dapat mencintai Allah dan Rasul-NYA,
Rasulullah sering berdo'a :
wa as aluka hubbaka, (dan aku memohon rasa cinta kepada-MU )
wa hubba man-yuhibbuka, (dan cinta kepada orang-orang yang mencintai-MU )
wa hubba 'amali-yuqoribunniy ilaa hubbika (juga cinta kepada amal perbuatan yang akan mendekatkan diriku untuk mencintai-MU)
( HR. Ahmad, At-Tirmidzi )

Semoga kita dapat mencintai Allah & Rasul-NYA, dan mencintai makhluk-NYA karena-NYA. Sehingga kita dapat merasakan manisnya iman, dan merasakan nikmatnya beribadah kepada-NYA, dan mengantarkan kita ke surga-NYA, Amiin ya Rabb-al-alamin.



"Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah mudahkan baginya jalan menuju surga."
( HR. Muslim )

Friday, May 28, 2010

3 Kaidah Menggapai & Merasakan Kebahagiaan

Taman Ilmu :

3 Kaidah Menggapai & Merasakan Kebahagiaan

Bismillahir-Rahmanir-Rahim,
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih & Maha Penyayang....


Apakah yang manusia dambakan dalam hidupnya?
hidup berkecukupan dan dapat memenuhi kebutuhannya?
hidup sehat dan dapat mengerjakan banyak hal dalam hidupnya?
hidup bersama orang-orang yang disayanginya dan menyayanginya?
hidup dengan wawasan & ilmu pengetahuan yang luas? mengetahui tentang banyak hal?
hidup penuh petualangan dan merasakan banyak pengalaman?

Mungkin beberapa pertanyaan di atas sesuai dengan pendapat kita?
Mungkin pertanyaan-pertanyaan di atas masih "terlalu spesifik"....
Kalau kita bisa mengemukakan jawaban sederhana untuk pertanyaan :

Apakah yang manusia dambakan dalam hidupnya?

Jawaban yang singkat, padat, jelas yang dapat menjadi jawaban untuk kebanyakan manusia?

Kebahagiaan...

Kebahagiaan merupakan kumpulan dari "kebaikan", kumpulan dari "perasaan baik"...
Kebahagiaan adalah...
saat hati merasa tenang...
jiwa merasa tentram...
dada terasa lapang...
saat kita merasa nyaman...

Kebahagiaan bukanlah sesuatu yang "terukur" atau "terlihat", bukan sesuatu yang "teraga", bukan sesuatu yang bersifat "lahiriah"
Kebahagiaan adalah sesuatu yang "terasa"....

Sudah fitrah (naluri) manusia menyukai yang baik, yang indah,
Tapi apakah kita dapat setiap saat memperoleh atau memiliki sesuatu yang "baik & indah"?
Sudah sunatullah (ketentuan Allah) adakalanya suka, adakalanya duka, ada manis, ada pahit, mungkin kita akan dengan mudah merasakan kebahagiaan saat kita memperoleh suka dan manis, namun bagaimana saat kita memperoleh duka dan pahit?

Ada perkataan yang bagus dari Ibnul Qoyyim ( 1292-1350M / 691-751H ) :
Tidak ada daya dan upaya kecuali dari Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung, yang senantiasa diharapkan terijabahnya do'a.
Semoga Allah melindungi kalian di dunia dan akhirat.
Semoga Allah senatiasa melapangkan nikmat-NYA baik secara zhohir maupun batin.
Semoga Allah pula menjadikan kalian : orang-orang yang bersyukur tatkala diberi nikmat, bersabar ketika ditimpa musibah dan segera memohon ampunan kepada Allah ketika terjerumus ke dalam dosa. Inilah 3 tanda kebahagiaan dan tanda keberuntungan seorang hamba di dunia dan akhiratnya. Seorang hamba senatiasa akan berputar pada kondisi ini.
( Al Wabilush Shoyib, hal. 11, Asy-Syamilah )

Sungguh indahnya saat kita dapat menjalani hidup kita dengan 3 sikap tersebut :
1. Bersyukur, saat memperoleh dan merasakan nikmat dan suka, sesuatu yang manis,
2. Bersabar, saat memperoleh duka,merasakan sesuatu yang kurang "meng-enak-an", sesuatu yang kita rasa "pahit",
3. Beristighfar (memohon ampunan) kepada Allah, saat kita melakukan kesalahan....

Bukankah hidup ini tak terlepas dari 3 kondisi, suka, duka dan melakukan kesalahan?


Semoga Allah subhanahu wa ta'ala,
mengkaruniakan ilham pada kita untuk menyadari nikmat-nikmat-NYA,
mengkaruniakan ilham pada kita untuk mengambil pelajaran dari musibah dan ujian dari-NYA,
mengkaruniakan ilham pada kita untuk berintrospeksi diri dan menyadari kesalahan kita,
Semoga Allah memudahkan kita untuk menjalani kehidupan kita dengan 3 sikap tersebut,

Semoga kita memperoleh dan merasakan kebahagiaan di dunia dan kebahagiaan di akhirat,

Amiin... ya Robb al 'Alamin ( Kabulkanlah, wahai Rabb semesta alam)


Allah Ta’ala ( Allah Yang Maha Tinggi ) berfirman :


Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-KU), maka pasti adzab-ku sangat berat."
( QS. Ibrahim (14) : 7 )

Dan terhadap nikmat Tuhanmu, hendaklah engkau nyatakan (dengan bersyukur).
( QS. Adh-Dhuha (93) : 11 )

Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira, kepada orang-orang yang sabar,
(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka berkata "Inna lillahi wa inna ilaihi roji'un (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-NYAlah kami kembali).
( QS. Al-Baqarah (2) : 155-156 )

Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar.
( QS. Al-Baqarah (2) : 153 )

Dia (Musa) berdo'a, "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah mendzalimi diriku sendiri, maka ampunilah aku." Maka DIA (Allah) mengampuninya. Sungguh, Allah Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.
( QS. Al-Qashash (28) : 16 )

Maka bersabarlah kamu, sesungguhnya janji Allah itu benar, dan mohonlah ampun untuk dosamu dan bertasbihlah seraya memuji Tuhanmu pada waktu petang dan pagi.
( QS. Al-Mu'min/ Ghafir (40) : 55 )


dari al-Hadits :

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melakukan sholat malam sehingga telapak kakinya membengkak. Maka, Aisyah berkata kepada Rasulullah : " Mengapa engkau beribadah sehingga begitu, bukankah Allah sudah mengampuni dosa-dosamu baik yang telah lalu maupun yang akan datang?"
"Apakah aku tidak sepatutnya menjadi hamba yang bersyukur?"
( HR. Bukhari )

Rasulullah bersabda :
"Sungguh mengagumkan keadaan orang mukmin, keadaan mereka senantiasa mengandung kebaikan. Tidak terjadi yang demikian itu kecuali bagi orang mukmin. Jika ia mendapatkan kesenangan, ia bersyukur, hal itu merupakan kebaikan. Jika ia tertimpa kesusahan, ia bersabar. Itu juga merupakan kebaikan.
( HR. Muslim )

Rasulullah bersabda :
"Seorang Muslim yang tertimpa kelelahan, kemelaratan, kegundahan, kesedihan, kesakitan dan kedukacitaan, sampai yang tertusuk duri, niscaya Allah akan mengampuni dosanya dengan apa yang menimpanya."
( HR. Bukhari & Muslim )

Rasulullah bersabda :
"Wahai manusia, bertaubatlah kalian kepada Allah, sesungguhnya aku bertaubat dalam sehari kepada-NYA seratus kali."
( HR. Muslim )
--> Rasulullah biasa membaca : "Astaghfirullah, wa atuubu ilaiih" ( Aku memohon ampun kepada Allah dan bertaubat kepada-NYA )


Rujukan :
Al-Qur'an & Terjemahannya
KItab Hadits : Shahih Riyadhush Shalihin, Imam Nawawi
www.rumaysho.com : 3 Tanda Kebahagiaan
Buku Dzikir Pagi Petang dan Sesudah Shalat Fardhu Menurut Al-Qur’an & As-Sunnah yang Shahih , susunan Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas
Buku Do’a dan Wirid, susunan Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawaz




Taman Dzikir & Do’a :


Allahuma inniy ‘ala dzikrika, (Ya Allah, tolonglah aku untuk berdzikir kepada-MU)
Wa syukrika, (dan bersyukur kepada-MU)
Wa husni ‘ibadatik (serta beribadah dengan baik kepada-MU)

( HR. Abu Dawud, an-Nasa-i, Ahmad, al-Hakim, derajat hadits : shahih )
Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam pernah memberi wasiat kepada Mu’adz agar dia mengucapkan do’a di atas setiap akhir shalat.


Do’a agar dijadikan hamba yang bersyukur :

Robbiy auzi’niy an asy-kuro ni’matikal-latiy an ‘amta ‘alayya wa ‘ala waalidayya
wa an a’mala shoolihaan tardhoohu
wa ad-khilniy birohmatika fiy ‘ibaadikash-shoolihiin
artinya :

“Ya Rabb-ku, anugerahkanlah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-MU yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku
dan agar aku mengerjakan amal shalih yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-MU ke dalam golongan hamba-hamba-MU yang shalih.
( QS. An-Naml (27) : 19 )



Buletin :
Indahnya Islam, Jalan Menuju Surga
( Edisi 3 : 3 Kaidah Menggapai & Merasakan Kebahagiaan )

"Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah mudahkan baginya jalan menuju surga."
( HR. Muslim )

Friday, May 21, 2010

Memahami Islam Dengan Benar, Jalan Menuju Keselamatan & Kebahagiaan


Saatnya Memahami Islam Dengan Benar



Saudara-saudariku, ketahuilah sesungguhnya Allah Tabaraka wa Ta’ala telah memilihkan Islam sebagai agamamu.

“Sesungguhnya agama (yang haq) di sisi Allah adalah Islam.” (QS. Ali-Imron (3) : 19)

Dan Allah meridhoi Islam, menyempurnakan, dan melengkapinya untukmu agar engkau dapat meraih tujuan hidupmu yang utama yaitu beribadah kepada Allah.

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmatKu dan telah kuridhoi Islam itu sebagai agamamu.” (QS. Al-Maidah (5) : 3)

Ibnu Katsir berkata, “Ini adalah nikmat terbesar dari berbagai nikmat yang Allah berikan kepada umat ini. Yaitu Allah telah menyempurnakan untuk mereka agama mereka, sehingga mereka tidak membutuhkan agama yang lain dan juga tidak membutuhkan nabi selain nabi mereka, Nabi Muhammad sholallohu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itulah, Allah menjadikan beliau sebagai penutup para nabi dan menjadikannya pula sebagai nabi yang diutus kepada seluruh manusia dan jin. Maka tidak ada yang halal melainkan apa yang dihalalkannya dan tidak ada yang haram selain apa yang diharamkannya serta tidak ada agama yang benar kecuali agama yang disyari’atkannya.”


Engkau Bisa Meraih Nikmat Islam

Dan saudara-saudariku, ketahuilah… engkau belum bisa mendapatkan nikmat Islam dalam hatimu sampai engkau memahaminya dengan benar. Pegangan utama seorang muslim & muslimah dalam memahami Islam adalah mengikuti Al Quran dan hadits. Allah telah menjamin akan menganugerahkan keistiqomahan kepada orang-orang yang mengikuti Al Quran, sebagaimana disebutkan tentang perkataan jin dalam Al Quran.
“Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (Al Quran) yang telah diturunkan setelah Musa yang membenarkan kitab-kitab sebelumnya lagi memimpin kepada jalan kebenaran dan kepada jalan yang lurus.” (QS. Ahqoof (46) : 30)
Allah juga menjamin akan memberikan keistiqomahan kepada para pengikut rasul sholallahu ‘alaihi wassalam yang disebutkan dalam firmanNya,
“Sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (QS. Asy-Syu’ara (42) : 52)


Realita yang Engkau Hadapi

Pada realitanya, banyak sekali orang yang mengaku ber-ittiba’ (mengikuti) dan memahami Al Quran dan hadits. Sebagaimana para filosof dan orang-orang sufi mengatakan, “Kami adalah orang yang ber-ittiba’ terhadap Al Quran dan hadits dan memahaminya.” Para pengikut filsafat memang mengikuti Al Quran dan hadits, akan tetapi mereka menjadikan nash-nash Al-Qur’an dan hadits tunduk pada tuntutan akal mereka. Dengan demikian mereka sebenarnya telah meninggalkan Al Quran dan hadits dan menjadikan akal mereka sebagai Tuhan. Para pengikut sufi juga mengambil Al Quran dan hadits, namun mereka menjadikan nash-nash keduanya tunduk kepada perasaan mereka. Dengan demikian mereka pun meninggalkan Al Quran dan hadits dan menjadikan perasaan mereka sebagai Tuhan.

Kedua pemahaman tersebut merupakan contoh bahwa perpecahan telah terjadi pada umat Islam menjadi bergolong-golong. Mengapa umat Islam bisa berpecah belah? Tidak lain hal ini disebabkan manusia bersandar pada dirinya dalam memahami Al Quran dan hadits. Namun mereka tidak menyadari pemikiran manusia berbeda-beda dan tidak seragam. Di samping itu, kemampuan manusia dalam memahami Al Quran dan hadits sangat terbatas. Tidak ada satu akal pun yang sempurna, demikian juga tidak ada seorang pun yang terlepas dari kesalahan. Sehingga jadilah manusia berpecah-belah sesuai dengan pemikiran mereka masing-masing.

Semua pemahaman dari golongan-golongan tersebut salah adanya selama meraka masih berpegang pada hawa nafsu yang buruk dalam memahami Al Quran dan hadits, kecuali orang-orang yang Allah berikan petunjuk. Allah mengancam penyelewengan mereka terhadap Al Quran dan hadits dengan neraka.

“Ketahuilah, sesungguhnya orang-orang sebelum kalian dari kalangan ahlul kitab terpecah menjadi 72 golongan dan umat ini akan terpecah menjadi 73 golongan. 72 golongan di dalam neraka* dan 1 golongan berada di surga.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Ad Darimi, Ath Thabroni, dll.)

* terancam neraka, namun bukan berarti kekal di neraka, karena Allah telah menjamin bagi siapa saja yang ada keimanan meski sebesar biji zarrah akan Allah keluarkan dari neraka

Ash Shan’ani rahimahullah berkata, “Penyebutan bilangan dalam hadits itu bukan untuk menjelaskan banyaknya orang yang celaka dan merugi, akan tetapi untuk menjelaskan betapa luas jalan-jalan menuju kesesatan serta betapa banyak cabang-cabangnya, sedangakan jalan menuju kebenaran hanya satu.”
Dan orang-orang yang berpecah-belah karena memahami Al Quran dan hadits dengan hawa nafsu mereka yang menyimpang adalah teman-teman setan yang mengikuti jalan kesesatan.

Dari Ibnu Mas’ud berkata, “Pada suatu hari Rasulullah sholallohu ‘alaihi wassalam membuat sebuah garis lurus dan bersabda : ‘Ini adalah jalan Allah.’ Kemudian beliau membuat garis-garis lain di kanan kirinya, dan bersabda: ‘Ini jalan-jalan lain dan pada setiap jalan ini terdapat setan yang menyeru ke jalan-jalan tersebut.’ Beliau lalu membaca (firman Allah ta’ala) : ‘Dan sesungguhnya inilah jalanKu yang lurus. Oleh karena itu, ikutilah. Janganlah kamu mengikuti jalan-jalan lain yang akan memecah belah kamu dari jalanNya.’” (QS. Al-An’am (6) : 153)


Lalu, Bagaimana Memahami Islam yang Benar ?

Setelah menilik realita yang ada, kita dapat mengetahui bahwa tidak semua orang yang belajar Al Quran dan hadits mendapatkan nikmat Islam dalam hatinya. Hal ini memang merupakan hal yang sangat disayangkan. Semua golongan-golongan dalam Islam tidak akan pernah mendapat nikmat Islam karena tidak memahami Al Quran dan hadits dengan benar.

Lalu, bagaimana memahami Islam yang benar?
Wahai saudara-saudariku, renungkanlah apa yang engkau baca dengan lisanmu setiap engkau sholat maka engkau akan mendapatan jawabannya. Sesungguhnya Allah berfirman,“Tunjukilah kami jalan yang lurus. (Yaitu) jalan orang-orang yang telah engkau beri nikmat atas mereka.” (Qs. Al-Fatihah (1) : 6-7)

Dari sini, engkau mendapatkan jawabannya, saudara-saudariku! Bahwa untuk mendapatkan nikmat Islam adalah memahami Al Quran dan hadits dengan mengikuti orang-orang yang telah terlebih dahulu mendapatkan nikmat Islam. Siapakah mereka?
Ibnul Qoyyyim berkata, “Siapa saja yang lebih mengetahui kebenaran serta istiqomah mengikutinya maka ia lebih pantas untuk mendapatkan ash shiraathal mustaqiim (jalan yang lurus).”

Syaikh Abdul Malik Ramadhani menjelaskan bahwa manusia yang paling utama yang telah Allah beri nikmat ilmu dan amal adalah para shahabat Rasulullah shollallohu ‘alaihi wasallam, karena mereka mendapatkan petunjuk langsung dari Rasul shollallahu ‘alaihi wasallam yang mulia. Dengan demikian penafsiran dan pemahaman merekalah yang paling selamat. Selain itu, mereka adalah generasi terbaik* dari umat ini dalam memahami Al Quran dan hadits serta mengamalkannya.

“Sebaik-baik umat ini adalah generasiku (shahabat), kemudian orang-orang yang mengikuti mereka (tabi'in), kemudian orang yang mengikuti mereka (tabi'ut tabi'in).” (Muttafaqun ‘alaihi/ HR. Bukhori Muslim)

* terbaik dalam hal ibadah & beragama (ibadah murni/khusus), karena untuk urusan dunia (teknologi) tentunya yang kemudian yang lebih baik, dan Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam telah bersabda : "Kalian lebih tahu urusan dunia kalian" ( HR. Muslim ) . Jadi dalam hal ibadah (khusus) 3 generasi itulah yang terbaik ibadahnya, jadi hendaknya kita meneladani mereka, dan mencukupkan dengannya, karena Islam telah sempurna, tidak perlu tambahan dan tidak perlu pengurangan, maka sesuatu yang tidak ada contohnya dari mereka (pada masa mereka) merupakan sesuatu yang baru dalam agama.

Para shahabat merupakan kaum yang dipilihkan oleh Allah untuk menemani nabiNya, dan menegakkan agamaNya.
Ibnu Mas’ud berkata, “Sesungguhnya Allah memandang kepada hati para hambaNya. Dia mendapati Muhammad adalah yang paling baik hatinya. Lalu Allah memilihnya untuk diriNya dan mengutusnya dengan risalahNya. Kemudian Allah kembali memandang hati hamba-hambaNya yang lain. Dia mendapati para shahabat adalah orang-orang yang paling baik hatinya setelah beliau shollallahu ‘alaihi wasallam. Allah lalu jadikan mereka sebagai pembantu NabiNya dan mereka berperang membela agamaNya.” (Diriwayatkan oleh Ahmad)

Dan pemahaman para shahabat sering juga disebut manhaj salafus sholih (pemahaman pendahulu yang sholih).


Mengapa Perlu Berpegang Teguh pada Manhaj Salafus Sholih?

Ketahuilah saudara-saudariku bahwa perpecahan umat menjadi bergolong-golong adalah tercela dan dibenci. Allah ta’ala berfirman:
“Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, (yaitu) orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Masing-masing golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” (QS. Ar Ruum (30) : 31-32)

Dan meskipun perpecahan tidak diridhoi oleh Allah, namun hanya sedikit orang yang bisa selamat darinya. Dan tidaklah seseorang selamat dari bencana ini kecuali orang-orang yang mengikuti jalan Rasulullah sholallahu ‘alaihi wa sallam.
Rasulullah bersabda yang artinya: “Orang-orang Yahudi terpecah menjadi 71 atau 72 golongan dan orang-orang Nashrani seperti itu juga. Adapun umat ini terpecah menjadi 73 golongan.” didalam riwayat lain disebutkan: “Sesungguhnya Bani Israil terpecah menjadi 72 golongan dan umatku terpecah menjadi 73 golongan semuanya di neraka kecuali satu.” Para sahabat bertanya: “Siapa yang (selamat) itu wahai Rasulullah?” beliau menjawab: “(Yang mengikuti aku dan para sahabatku).” (HR.Tirmidzi dengan sanad yang hasan)

Allah hanya menginginkan kebaikan dari para hambaNya agar hambaNya kembali kepada kampung halamannya, yaitu surga. Oleh karena itu, diwajibkan atas seorang hamba untuk menyelamatkan diri dari perpecahan dan berpegang teguh pada jalan Rasulullah dan para sahabatnya.

Rasulullah shalallahu 'alaihi wasalam bersabda, “Berpegang teguhlah dengan sunnahku dan sunnah para khulafaur rosyidin, pegang eratlah sunnah tersebut dengan gigi geraham kalian.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah dan lain-lain)

Allah memuji orang-orang yang mengikuti jejak salaf dari kalangan Muhajirin dan Anshor dan di dalamnya terdapat perintah akan wajibnya mengikuti mereka, karena keridhoan Allah tidak mungkin bisa diraih melainkan hanya dengan mengikuti mereka.

Allah ta’ala berfirman yang artinya: “Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. At-Taubah: 100)
Hidayah untuk kembali kepada Allah dan meraih surga hanya bisa diperoleh lewat jalannya para sahabat radhiyallahu ‘anhum (jalan yang selamat ).

Allah ta’ala berfirman yang artinya: “Maka jika mereka beriman kepada apa yang kamu telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk; dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (dengan kamu). Maka Allah akan memelihara kamu dari mereka. Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqoroh (2) : 137)

Allah mengancam orang yang durhaka kepada Rasulullah dan menyelisihi kaum mukmin pada zamannya (yaitu shahabat) dengan neraka jahannam.
“Barangsiapa yang mendurhakai Rasul setelah jelas kebenaran baginya dan mengikuti jalan yang bukan jalan kaum mukmin, Kami biarakan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya dan Kami masukkan ia ke dalam jahannam, jahannam itu adalah seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An-Nisa (4) : 115)

Ya Allah… mudahkanlah kami menempuh jalan orang-orang yang telah engkau beri nikmat atas mereka, yaitu orang-orang yang memeperoleh hidayah dan istiqomah. Bukan jalan orang-orang yang Engkau murkai, yang hati mereka telah rusak sehingga mereka menyimpang dari kebenaran meskipun telah mengetahuinya. Bukan pula jalan orang-orang yang sesat yang tidak memiliki dan tidak mau belajar ilmu agama, sehingga mereka terus-menerus dalam kesesatan dan tidak mendapatkan petunjuk kepada kebenaran. Amiin…

Washollallahu ‘ala Nabiyyi Muhammad wa ‘ala alihi wa Shahbihi wa sallam

Rujukan:
1. Sittu Duror Landasan Membangun Jalan Selamat karya Syaikh Abdul Malik Ramadhani
2. Membedah Akar Bid’ah karya Ali Hasan Al Halabi Al Atsari
3. Artikel ‘Sudah Saatnya Meniti Manhaj Salaf’ yang merupakan penjelasan Syaikh Salim bin ‘Id Al Hilali dalam ceramah beliau dalam Majalah As Sunnah edisi 01/Tahun XI/ 1428H/2007M
4. Artikel ‘Mengapa Harus Salafi?’ karya Abu ‘Abdirrahman bin Toyyib As Salafi dari situs salafindo.com

*** Artikel www.muslimah.or.id
Penyusun: Ummu ‘Abdirrahman
Muroja’ah: Ust. Subhan Khadafi, Lc.

* tambahan dari redaksi

Sunday, May 16, 2010

Tauhid Kunci Menuju Surga

”Barang siapa yang akhir perkataannya sebelum meninggal dunia adalah ‘laa ilaha illallah’, maka dia akan masuk surga”
(HR. Abu Dawud, derajat hadits : shahih)

Apakah yang menjadi tujuan hidup manusia?
kebahagiaan...
Begitu juga kita, kita mengharapkan kebahagiaan, kebahagiaan yang bagaimana? sebagai seorang muslim yang mengimani adanya hari kiamat dan kehidupan di akhirat, kebahagiaan yang menjadi harapan kita kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

Kebahagiaan di akhirat adalah saat kita dimasukkan ke dalam surga, itulah kebahagiaan dan kemenangan terbesar. Bagaimana untuk menuju kebahagiaan tersebut? Islam telah mengajarkan bagaimana menggapai kebahagiaan di dunia dan akhirat, ajaran Islam meliputi seluruh aspek kehidupan. Islam mengajarkan akhlak & budi pekerti yang baik, mengajarkan berbuat kebaikan & meninggalkan kejahatan, mengajarkan sosial, berhubungan dengan Allah, manusia, dan seluruh makhluk hidup, semua hal itu bertujuan agar manusia hidup bahagia di dunia dan akhirat.

Maka untuk menggapai kebahagiaan ialah dengan menjalankan ajaran Islam dalam kehidupan kita. Untuk menjalankan keIslaman tentulah kita perlu mengetahui apa itu Islam, bagaimana Islam, dan apa saja yang diajarkan Islam kepada kita, dimulai dari hal yang pokok/mendasar.

Pokok atau landasan dasar dalam Islam adalah tentang akidah (keimanan). Akidah merupakan akar yang menjadi penumpu tegaknya pohon keimanan. Ibarat suatu bangunan, akidah merupakan pondasi untuk tegak & kokohnya berdirinya bangunan tersebut. Jadi sebelum kita mengamalkan ajaran Islam hendaknya terlebih dahulu menguatkan akidah, yaitu dengan mengetahui & memahami akidah yang benar & lurus, sehingga akan mengarahkan kita pada jalan yang lurus.


Akidah & Tauhid

Akidah merupakan keyakinan yang mengikat hati seseorang terhadap suatu agama. Karena berkaitan dengan keyakinan, maka akidah merupakan amalan hati. Akidah Islam ada dalam rukun iman yang enam (iman kepada Allah, kepada para malaikat, keapada para rasul, kepada hari berbangkit, dan beriman kepada qodho & qodar). Barang siapa tidak menerima salah satu saja dari keimanan tersebut, maka dia belum beriman.

Tauhid berasal dari kata "wahhada" yang artinya satu atau esa, sehingga tauhid berarti mengesakan, sehingga secara istilah tauhid berarti mengesakan Allah dalam mengimani ke-esa-an Allah sebagai pencipta & pengatur alam semesta, dan memurnikan ibadah hanya pada Allah.

"Laa ilaha illallah" kalimat Tauhid
Kalimat "Laa ilaha illallah", kalimat yang mungkin kita sudah hafal di luar kepala, ...
"Laa ilaha illallah", "Tiada Tuhan Selain Allah"...
Kita sudah mengetahuinya, tapi apakah kita sudah mengerti dan memahami makna kalimat tersebut?
apakah kita sudah mengamalkannya dalam kehidupan kita?

Pengamalan atau perwujudan kalimat "Laa ilaha illallah" yang mengantarkan kita ke surga...
"Laa ilaha illallah" merupakan kalimat syahadat (persaksian), hal pertama yang menandai seseorang menjadi Muslim...
Kita bersaksi "bahwa tidak ada Tuhan yang hak untuk disembah/diibadahi kecuali Allah"...
Inilah yang dinamakan Tauhid, yaitu mengesakan Allah, menjadikan Allah satu-satunya...

Mengapa kita perlu mengetahui tentang tauhid?
Untuk men-tauhid-kan Allah, tentunya kita harus mengetahui apa itu tauhid dan bagaimana perwujudan tauhid, dan pelanggaran terhadap tauhid agar kita tidak terjerumus padanya (pelanggaran terhadap tauhid adalah kesyirikan yaitu menyekutukan Allah).

APA ITU TAUHID & BAGAIMANA PERWUJUDAN TAUHID?
Tauhid ada 3 macam, yaitu :
1. Tauhid Rubbubiyah
2. Tauhid Uluhiyah
3. Tauhid Asma wa Shifat
Sesungguhnya kita baru mewujudkan tauhid kalau kita mewujudkan ke-3-nya

1. Tauhid Rubbubiyah
Adalah mengakui bahwa Allah satu-satunya Tuhan yang menciptakan & mematikan, yang mengatur & memelihara alam semesta, yang melakukan segalanya.
Jadi tauhid Rubbubiyah adalah yang berkaitan dengan perbuatan & kekuasaan Allah subhanahu wa ta'ala.
Ayat-ayat dalam Al-Qur’an tentang tauhid Rububiyah :

- Pencipta seluruh makhluk.
"Allah menciptakan segala sesuatu dan Allah memelihara segala sesuatu." (QS. Az-Zumar (39) : 62 )

- Pemberi rizki kepada seluruh manusia dan makhluk lainnya.
"Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah lah yang memberi rezekinya…"
(QS. Hud (11) : 6 )


2. Tauhid Uluhiyah
Adalah Allah satu-satunya tujuan ibadah kita(hamba). Hanya kepada Allah segala tujuan peribadahan, hanya karena Allah segala peribadahan. Jadi kita meng-ikhlash-kan ibadah kita, yaitu kepada Allah & karena Allah.
Jadi Tauhid Uluhiyah adalah yang berkaitan dengan segala bentuk & tujuan peribadahan hamba kepada Allah.

Allah berfirman :
Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.
( QS. Adz-Dzariyat (51) : 56 )


Bentuk & tujuan peribadahan di sini termasuk : ketaatan (menjalankan sesuatu & meninggalkan sesuatu), berdo'a & menyeru, memohon pertolongan & bertawakal, bernadzar, bersumpah, menyembelih binatang dalam rangka mendekatkan diri, dan segala bentuk pendekatan diri kepada Allah.

Tauhid inilah yang dituntut harus ditunaikan oleh setiap hamba sesuai dengan kehendak Allah sebagai konsekuensi dari pengakuan mereka tentang Rubbubiyah dan kesempurnaan nama dan sifat Allah.

3. Tauhid Asma wa Shifat
Asma berarti nama
Shifat berarti sifat
Jadi Tauhid Asma wa Shifat, adalah perwujudan tauhid yang berkaitan dengan nama-nama dan sifat-sifat Allah, yaitu bahwa nama-nama dan sifat-sifat yang telah Allah beri-tahukan dalam firman-firmanNYA dan yang Rasulullah sampaikan dalam hadits.
Apakah penting untuk mengetahui nama-nama dan sifat-sifat Allah?
Jika kita bersaksi tuhan kita dalah Allah, apakah kita sudah mengenal Allah?
Untuk mengenal Allah yaitu dengan mengetahui nama-nama dan sifat-sifatNYA, seperti yang Allah sendiri beritakan dalam firman-firmanNYA, dan Rasulullah sampaikan dalam hadits (karena sesungguhnya Rasulullah berbicara berdasarkan wahyu).
Nama-nama dan sifat-sifat Allah bisa kita ketahui dalam Asma ul-Husna, seperti Ar-Rahman (Yang Maha Pengasih), Ar-Rahim (Yang Maha Penyayang), Al-Kholiq (Yang Maha Pencipta), Al-Aziz (Yang Maha Kuasa), Al-Hadi (Yang Maha Pemberi Petunjuk), Al-Wahhab (Yang Maha Pengkarunia), dan lain-lain.
Dengan mengenal nama-nama & sifat-sifat Allah, membantu kita saat kita berdo'a dan memohon pada Allah, seperti yang Allah firmankan :
"Allah mempunyai asmaa ul-husna , maka bermohonlah kepada-NYA dengan menyebut asma ul-husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-namaNYA. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan."
( QS. Al-A'raf (7) : 180)

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam tauhid Asma dan Sifat adalah sebagai berikut:
Menetapkan semua nama dan sifat tidak menafikan dan menolaknya.
Tidak melampaui batas dengan menamai atau mensifati Allah di luar yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya.
Tidak menyerupakan nama dan sifat Allah dengan nama dan sifat makhluk-Nya.
Tidak mencari tahu tentang hakikat bentuk sifat-sifat Allah.
Beribadah kepada Allah sesuai dengan tuntutan asma dan sifat-Nya.

Tauhid akan terwujud melalui perwujudan ke-3 tauhid tersebut, mengingkari salah satu saja berarti belum bertauhid. Seperti yang terjadi pada kaum Quraisy, mereka mengakui Allah sebagai pencipta (tauhid Rubbubiyah), tetapi mereka juga menyembah berhala (mengingkari tauhid uluhiyah). Seperti yang Allah firmankan :
Dan sungguh, jika engkau bertanya kepada mereka, "Siapakah yang menciptakan langit dan bumi? "Niscaya mereka menjawab "Allah". Katakanlah, "Maka terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu seru selain Allah, jika Allah hendak mendatangkan kemudharatan kepadaku, apakah berhala-berhalamu itu dapat menghilangkan kemudharatan itu, atau jika Allah hendak memberi rahmat kepadaku, apakah mereka dapat menahan rahmat-NYA?" Katakanlah : "Cukuplah Allah bagiku." KepadaNYA-lah bertawakal orang-orang yang berserah diri."
( QS. Az-Zumar (39) : 38 )
Karena pengingkaran kaum Quraisy terhadap tauhid uluhiyah mereka tetap kafir.

Jika kita melihat fenomena yang ada sekarang, banyak umat Islam yang meminta tolong & bertawakal pada selain Allah, menggunakan jimat karena percaya jimat tersebut dapat membawa manfaat dan menghindarkan dari mudharat, mendatangi dan mempercayai dukun/paranormal/"orang pintar" untuk menanyakan hal-hal ghoib dan meminta pertolongan, mendatangi kuburan untuk menyampaikan hajat & meminta pertolongan, menyembelih binatang bukan karena Allah, dan bentuk-bentuk kesyirikan lain yang telah merajalela. Hal ini menunjukkan lemahnya keimanan dan kurangnya perwujudan tauhid mereka terhadap Allah subhanahu wa ta'ala.


Pentingnya Akidah Tauhid Dalam Kehidupan Seorang Muslim

Sebagai seorang muslim kita hendaknya memahami tauhid dan mengerti betapa pentingnya akidah tauhid dalam diri kita. Akidah tauhid merupakan landasan diterimanya amal. Jika kita tergelincir pada kesyirikan maka terhapuslah seluruh amalan kita. Allah tidak akan pernah menerima amalan pelaku kesyirikan sampai dia meninggalkan kesyirikan. Allah berfirman :
Dan sesungguhnya telah diwahtukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. "Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi."
( QS. Az-Zumar (39) : 65)

Kadang ada orang yang banyak melakukan ibadah, tetapi ternyata dia masih melakukan kesyirikan dan mempersekutukan Allah, dia berdo'a, menyembelih, dan bernadzar untuk selain Allah. Hal ini dapat terjadi karena kurangnya pemahamannya terhadap tauhid, sehingga dia melanggar tauhid karena ketidak tahuannya. Maka seharusnya setiap muslim memahami makna tauhid, sehingga dapat mengamalkan dan mewujudkannya dalam kehidupannya. Dan untuk memahaminya ialah denagn mempelajari atau mencari ilmu tentang tauhid dan Islam yang hak.

Alangkah malangnya nasib sesorang yang dia menghadap Allah di hari kiamat saat dirinya belum bertauhid, dia tergelincir pada kesyirikan karena kurangnya bekal imu tentang tauhid. Allah berfirman :
"Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun."
( QS. Al-Ma'idah (5) : 72 )

Tauhid merupakan hal yang sangat penting, memurnikan ibadah hanya kepada Allah. Rasulullah bersabda dalam hadits qudsi :
bahwa Allah berkata di hari kiamat :
"Wahai anak Adam, jika engkau datang menghadapku membawa sebesar dunia dosa-dosa, kemudian engkau menjumpaiku dan tidak mempersekutukanku maka aku akan datangkan sebesar itu pula pengampunan."
( HR. At-Tirmidzi )

Hadits tersebut menjelaskan kepada kita bahwa terbukanya ampunan Allah meski dosanya amat banyak selama tidak menyekutukan Allah (syirik). Syirik merupakan dosa terbesar, dan tidak bisa diampuni selama pelakunya tidak bertaubat selama hidupnya. Sedangkan jika pelakunya bertaubat sebelum nyawa sampai kerongkongan dan selama matahari belum terbit dari barat, maka Allah akan mengampuninya. Seperti yang ada dalam Al-Qur'an dan Hadits :

"Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) karena mempersekutukan-NYA (syirik), dan DIA mengampuni apa (dosa) yang selain (syirik) itu bagi siapa saja yang DIA kehendaki. Barangsiapa mempersekutukan Allah, maka sungguh, dia telah berbuat dosa yang besar."
(QS. An-Nisaa (4) : 48)

Rasulullah bersabda :
“Sesungguhnya Allah menerima taubat seorang hamba selama nyawa belum sampai kerongkongan.”
(HR. At-Tirmidzi )

Rasulullah bersabda :
“Barangsiapa yang bertaubat sebelum matahari terbit dari barat, maka Allah akan menerima taubatnya.”
(HR. Muslim)


Tauhid Jalan Keselamatan & Kunci Menuju Surga

Begitu pentingnya masalah tauhid sehingga betapa berharganya nyawa dan darah seorang ahli tauhid (orang yang bertauhid) bagi Allah, Rasulullah menyebutkan bahwa hancurnya dunia beserta isinya lebih sederhana bagi Allah dari pada menumpahkan darah seorang mukmin. Hancurnya bangunan ka'bah lebih ringan dari pada membunuh jiwa seorang mukmin ahli tauhid.

Allah berfirman :
"Dan adapun orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman dengan kedzaliman, bagi mereka jaminan keamanan dan mereka mendapat petunjuk."
( QS. Al'An'am (6) : 82 )

Kedzaliman yang dimaksud dalam ayat di atas ialah syirik, seperti yang tercantum dalam surat Luqman (31) ayat 13, yaitu :
"Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya, "Wahai anakku! Janganlah mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kedzaliman yang besar."
( QS. Luqman (31) : 13 )

Dengan tauhid seorang mukmin terjamin keselamatannya dari siksa neraka, Rasulullah bersabda :
"Akan dikeluarkan dari dalam neraka orang-orang yang hatinya terdapat sebesar biji dzarrah (sawi) dari keimanan."

Dan Rasulullah juga bersabda :
”Barang siapa yang akhir perkataannya sebelum meninggal dunia adalah ‘laa ilaha illallah’, maka dia akan masuk surga”
(HR. Abu Dawud, derajat hadits : shahih)

Semoga Allah senatiasa memberi petunjuk kepada kita untuk men-tauhid-kannya, sehingga mengantarkan kita kepada surga-NYA, Amiin…

“Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah mudahkan baginya jalan menuju surga.”
( HR. Muslim )

Sumber :
1. Kitab Tauhid Pemurnian Ibadah Kepada Allah, Syaikh Muhammad at-Tamimi, Penerbit : Darul Haq
2. Artikel : Pentingnya Akidah Tauhid, majalah As-Saliim

Saturday, April 24, 2010

Jadilah Pejuang! Jadilah Pengusaha!

dari artikel:
Takut Usaha, Gak Salah...?
(Entrepreneur, majalah As-Saliim)

oleh : Jaya Setiabudi


Baru saja saya membaca iklan suatu lembaga pendidikan, mencuplik beberapa berita di harian Kompas. Berita yang pertama mengatakan 2000-4000 orang pengangguran baru tercipta di Indonesia setiap hari. Lebih lanjut Kompas memberitakan diperkirakan di tahun 2009, ada 116,5 juta orang (69% dari total penduduk) di Negeri ini Serbu Pasar Kerja! Mengerikan!

Sarjana, Sarjana, Sarjana
Jamannya si Doel, menjadi sarjana merupakan suatu kebanggan luar biasa. Bagaimana dengan sekarang? Mau tahu berapa kebutuhan tenaga kerja sarjana di Indonesia? 75.000 orang saja per-tahun-nya! Emang berapa jumlah lulusan sarjana? 3 juta sarjana baru setiap tahunnya. jadi jangan heran, sayapun pernah punya driver yang sarjana, bahkan lulusan dari luar negeri. Kok bisa? "Daripada nganggur", katanya.

Anggap saja Anda adalah termasuk dari 75.000 sarjana yang "beruntung" mendapatkan job sarjana. Namun jangan protes jika penghasilan Anda akan mendapatkan "tekanan" alias pas-pasan. Jika tidak puas, monggo silakan keluar, wong masih tersisa 2,9 juta sarjana yang ngantri. Kompetisi pekerja akan semakin gila. Sudah hukum alam, jika supply berlebihan, harga akan banting-bantingan. Nah, rendahnya gaji di negara ini harusnya bukan salah siapa-siapa, tapi salah bersama. Hal ini disebabkan sedikitnya pertumbuhan usaha atau pengusaha di negeri ini.

Seandainya saja pembaca sadar akan mendesaknya "lowongan" pengusaha, lha mbok yuk jadi pejuang, keluar kerja dan bangun usaha (ngga harus serta-merta keluar kerja juga kali ya..._red.). Khususnya bagi sarjana dan para lulusan sekolah kejuruan, dibuka lowongan "Wajib Usaha" (seperti wajib militer jaman perang). Kalo bangkrut gimana? Ya tinggal bangun lagi, wong dulu juga gak punya duit pas lahir. Apa yang ditakuti? Apalagi sekarang banyak sekali pendidikan informal yang mengajarkan "ilmu-ilmu praktis" mulai usaha, bangkit dari kebangkrutan ataupun paket mengembangkan usaha. Layaknya pasukan khusus yang dilatih dan diperbekali dengan senjata, tak perlu takut menghadapi musuh. Katakanlah Anda gagal terus dalam usaha dan ingin balik mencari kerja, apakah ditolak karena bekas pengusaha? Justru mentalitas pengusaha (Intrapreneurship) itu yang sekarang dibutuhkan, dibanding dengan karyawan yang "bermental" pekerja. Nah tuh, apalagi resiko jadi pengusaha? Paling ditakuti adalah saat kaya kemudian lupa diri saja.

Berita yang marak akhir-akhir ini, bahkan Presiden SBY juga mengatakan, "Tren sekolah-sekolah sekarang adalah menciptakan Young Entrepreneur". Daripada saling menuding dan memaki pemerintah dalam krisis ini, yuk kita menjadi bagian dari solusi krisis ini. Jadilah PEJUANG, jadilah PENGUSAHA!

Jika ada yang perlu ditakuti, takutlah "tidak punya KEBERANIAN".
Jika Anda mau mencaci, cacilah diri sendiri karena tidak berkontribusi.
FIGHT!